Postingan

Menampilkan postingan dengan label #fiksi

Pilihan Hidup

Di lorong kecil di sebelah pasar, tampak seorang laki-laki muda berjalan buru-buru. Di tangannya tampak kantong plastik berwarna hitam, ia memegang erat plastik tersebut. Isi plastiknya sangat spesial, nasi padang dengan lauk rendang kesukaan adiknya. Kali ini ia yakin adiknya akan menerima makanan ini, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sudah sepekan sejak kejadian itu, adiknya menolak menerima uang darinya. Menolak makanan yang ia bawa sebagai oleh-oleh sepulang kerja. Adiknya mogok makan. Benar-benar tidak makan sama sekali. Hanya air putih saja. Laki-laki itu tahu bahwa ini bentuk protes adiknya atas pilihan yang ia ambil. Tapi ia belum menemukan solusi yang lebih baik, sampai siang tadi. *** Laki-laki itu bersiap-siap untuk berangkat. Pakaiannya semi formal, kemeja panjang dipadu dengan celana kain, jaket kulit dipakai pula untuk menghangatkan tubuhnya di atas motor. Ini hari pertamanya dengan pekerjaan barunya. Wajar saja jika ia gugup, kan? Setelah dipecat dari tempat ...

Sarapan Ala Fitri

Fitri membungkus sendiri nasi uduk, telur dadar iris dan tempe orek buatannya sesudah salat Subuh. Hanya jadi dua belas bungkus, meleset dari perkiraannya sebanyak lima belas bungkus. Namun Fitri tidak patah semangat, dua belas bungkus pertama ini akan selalu ia ingat selamanya. Berawal dari pengalamannya yang selalu saja tidak sempat menyiapkan sarapan sebelum ke kampus. Ia akan menahan lapar sampai jam kuliah usai, kalau hanya satu mata kuliah, mungkin agak mendingan. Tapi, bila harus dua mata kuliah, maka nyanyian dalam perut akan lebih mirip seperti teriakan demonstran saat aksi protes di gedung pemerintahan. Fitri sadar bahwa kemampuan masaknya terbatas, maka ia hanya punya satu orang yang ia pikir bisa membantu niatnya ini. Ibunya. Sayangnya, ternyata ibunya tidak mendukung. Fitri masih ingat ketika ibunya meremehkan keinginannya itu. Ibunya bilang, dengan budget yang ia miliki, apa yang ia lakukan akan menjadi sia-sia belaka. Fitri pun sadar, budgetnya sangat terbat...

Masakan Mba Dina

Tampak seorang ibu sedang membawa mangkuk berukuran kecil dari pintu depan rumah. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka dengan apa yang baru saja diterimanya. Ya, mangkuk itu adalah pemberian dari tetangganya yang tinggal di sebelah kanan rumah. Di dalamnya ada sop iga buatan yang baru saja dibuatnya pagi ini. Terdapat tiga potong iga yang tampak menggugah selera, belum lagi harumnya yang sudah tercium sejak dari pintu. Jadi, apa yang salah? "Lagi-lagi begini," keluhnya. Ia kemudian menaruh mangkuk itu di atas meja makan tanpa mencoba isinya dulu. *** "Bu, hari ini Ibu membuat sop iga ya?"panggil seorang anak yang baru saja melirik isi meja makan sepulang sekolah. Tas dan sepatunya belum juga dilepas. Namun, hidungnya mencium harum tidak biasa dari meja makan. Ini membuatnya melupakan sejenak kebiasaannya menaruh sepatu ketika masuk rumah. Anak itu segera mengambil sendok kemudian mencicipi kuah dari sop iga yang terhidang di meja. Hoek, terdengar...

Cinta untuk Ayah

Aku memandangi punggungnya. Aku mulai lupa kapan terakhir kali aku merasa cinta padanya. Hatiku dipenuhi oleh kekecewaan, kemarahan juga kekesalan yang terus berusaha kuredam. Laki-laki itu sedang asyik dengan kegiatannya sendiri, mengisi ember dengan air lalu merendam kaus kakinya sendiri, menuangkan sabun lalu menyikat bagian dasar kaus kakinya dengan seksama. Dia seharusnya bisa meminta bantuanku untuk melakukan itu, tetapi dia memilih melakukannya sendiri. Akupun tidak berinisiatif menawarkan bantuan. Punggung itu, menyiratkan kerja kerasnya selama ini. Kerja-kerja yang mengantarkan aku hingga ada di posisi ini. Punggung itu milik orang paling berjasa dalam hidup seorang Namira. Ia adalah ayahku. *** Aku adalah anak tunggal. Setidaknya sampai usiaku 17 tahun. Setelah itu lahirlah seorang adik kecil perempuan lucu yang membuatku jadi kakak. Nadira, itu nama yang kupilihkan untuk adikku. Ibu menyetujui itu, supaya namanya terdengar mirip dengan namaku. Juga agar bayi pe...

Anak Laki-Laki Bu Supri

Aku baru dua kali melihatnya. Pertama kali, di lorong rumah sakit. Bayu, nama anak laki-laki itu, datang dengan wajah khawatir. Ia berusaha mencari tahu kondisi Bu Supri, ibunya, yang baru saja masuk ke IGD karena tiba-tiba jatuh di kamar mandi. Aku yang menemani Bu Supri ke rumah sakit hanya bisa menjawab singkat kronologis kejadian malam itu. Keesokan harinya, ketika Bu Supri sadar, Bayu ada di sampingnya, menyuapi ibunya bubur. Ada yang berbeda pada Bu Supri saat itu. Wajahnya, aku belum pernah melihat wajah Bu Supri secerah itu. Kedua, ketika libur lebaran tahun ini. Kali ini Bu Supri tidak menghabiskan libur lebaran di rumah anak-anaknya, tidak seperti biasanya. Ia memilih tinggal di rumahnya di kampung. Ternyata, Bayu datang ke rumah dua hari sebelum lebaran. Mengisi kamar kosong di bagian depan rumah yang ternyata memang kamarnya. Selama dua hari ini, Bu Supri kelihatan sibuk sekali. Mang Kosim, supir di rumah kami diminta mencari dodol garut merek "PICNIC...

Nurul VS Sasha

                    Lag i-lagi begini, dengus Nurul ketika baru saja sampai di balkon atas tempat kosnya. Tali jemuran masih saja dipenuhi cucian milik Sasha kemarin. Ia malas berurusan lagi dengan Sasha. Berkali-kali ia mengingatkan dengan cara baik bahkan sampai menegur dengan keras, Sasha belum juga berubah.                 Sasha pasti akan berkilah. Maaf ya, Teh, kemarin Sasha jemurnya kesorean, karena paginya ada kelas . Maaf ya, Teh, kalau boleh Sasha ikut jemur lagi sampai siang, ya . Maaf ya, Teh..blablabla . Nurul sudah hafal beragam alasan yang akan dikemukakan oleh Sasha. Semuanya hanya membuat Nurul makin jengkel pada adik tingkatnya itu.                 Di tempat kos ini, karena balkon tempat menjemur tidak terlalu besar, kami ...