Nurul VS Sasha

                    Lagi-lagi begini, dengus Nurul ketika baru saja sampai di balkon atas tempat kosnya. Tali jemuran masih saja dipenuhi cucian milik Sasha kemarin. Ia malas berurusan lagi dengan Sasha. Berkali-kali ia mengingatkan dengan cara baik bahkan sampai menegur dengan keras, Sasha belum juga berubah.
                Sasha pasti akan berkilah. Maaf ya, Teh, kemarin Sasha jemurnya kesorean, karena paginya ada kelas. Maaf ya, Teh, kalau boleh Sasha ikut jemur lagi sampai siang, ya. Maaf ya, Teh..blablabla. Nurul sudah hafal beragam alasan yang akan dikemukakan oleh Sasha. Semuanya hanya membuat Nurul makin jengkel pada adik tingkatnya itu.
                Di tempat kos ini, karena balkon tempat menjemur tidak terlalu besar, kami membuat jadwal mencuci dan menjemur. Nurul kebagian jadwal sesudah Sasha, dan Sasha hampir setiap pekannya selalu ‘melupakan’ jemurannya.
Kali pertama, Nurul bisa memakluminya. Sasha baru saja tinggal jauh dari orangtua, wajar kalau butuh penyesuaian untuk hal yang satu ini. Pekan selanjutnya, Nurul sengaja memilih mencuci di laundry dekat kampus saja dan membiarkan jemuran Sasha tetap tergantung di atas balkon.
                Ternyata hari itu hujan, Sasha menangis mengadu pada Teh Ifah, Teteh yang bertanggung jawab di kosan ini, karena tidak ada yang membantunya mengangkat jemuran. Nurul jelas saja jadi tertuduh utama. Namun ia masih dapat berkilah bahwa ia tidak sempat mencuci hari itu dan memilih menggunakan jasa cuci kiloan saja.
                Pekan depannya, Nurul berusaha berbaikan dengan Sasha. Ia mengangkat dan melipat baju milik Sasha, bahkan menaruhnya di ruang depan kosan sehingga Sasha tidak perlu naik ke balkon. Apakah Sasha menghargai niat baiknya? Jelas tidak, Sasha tanpa merasa bersalah langsung saja mengangkat keranjang cuciannya sepulang dari kampus lalu masuk ke kamar. Padahal Nurul dan beberapa rekan lainnya sedang duduk-duduk di ruang depan sambil menonton televisi.
                Nurul mulai mengangkat jemuran Sasha dan menaruhnya di keranjang. Lalu menjemur cucian basahnya sambil asyik bersiul.
                “Maaf, Teh. Sasha kelupaan lagi,”ujar satu suara yang tiba-tiba mengagetkannya.
                Nurul memaksakan diri untuk tersenyum.
                ***
                Teh Ifah memanggil Nurul ke kamarnya. Itu pesan yang disampaikan Resa, teman kosannya yang lain ketika Nurul baru saja pulang dari kampus. Ada apa gerangan ya, tidak seperti biasanya Teh Ifah harus berbicara personal begini. Nurul jadi menebak-nebak, apa ia terlambat membayar iuran, apa ia kelupaan untuk tugas belanja bulanan yang jadi kewajibannya. Rasa-rasanya tidak ada yang salah.
                Nurul bersegera menaruh tas dan map yang ia bawa, lalu langsung menuju kamar Teh Ifah.
                Tok..tok..tok..
                “Masuk saja, Rul,” ujar suara di dalam. Aku pun segera membuka gagang pintu kamar Teh Ifah.
                “Duduk di sini,” panggil Teh Ifah sambil menunjuk ke arah sampingnya yang kosong. Nurul mengangguk sambil duduk di tempat yang dimaksud.
                “Ada apa, ya, Teh?” Nurul segera memulai percakapan sore itu. Ia tidak mampu berbasa-basi lagi karena sangat penasaran.
                “Hm,,bagaimana ya cara memulainya. Enaknya kita ngobrol dari sebelah mana ya?” Teh Ifah malah bertanya balik. Tampak sekali wajahnya kebingungan.
                Namun akhirnya Teh Ifah memulai
                “Tadi siang Sasha cerita sama Teteh, katanya Sasha kehilangan uang, Neng. Dua ratus ribu.”
                Nurul mulai menerka arah pembicaraan ini.
                “Uangnya seingat Sasha ada di celana yang ia jemur kemarin. Tadi pagi, Nurul yang mengangkat jemurannya, kan? Apa Nurul melihat uang Sasha?”
                Nurul menahan rasa marahnya dalam hati. Lagi-lagi Sasha mencari masalah dengannya. Apa maksudnya bertanya tentang uang miliknya yang hilang pada Nurul, apa Sasha pikir Nurul melihat dan mengambilnya.
                Teh Ifah menyadari perubahan rona wajah Nurul.
                “Maaf, ya, Neng. Sasha dan Teteh sama sekali tidak menuduh Neng Nurul. Barangkali saja Neng Nurul lihat.”
                Nurul hendak berdiri, hendak menemui Sasha di kamarnya. Namun Teh Ifah menahan tangannya.
                “Sasha tadi pamit pulang ke rumah dulu. Ia merasa tidak enak karena harus bertanya begini pada Nurul.”
                Nurul kembali duduk di samping Teh Ifah.
                “Maaf, Teh. Tapi Nurul tidak melihat uang Sasha, juga tidak berniat untuk mengambil uang Sasha. Kalaupun Nurul lihat, pasti sudah Nurul kembalikan pada orangnya tadi pagi,” jelas Nurul dengan kalap. Ia masih tidak terima dituduh mengambil uang orang yang sering membuat dirinya kesal tiap pekan.
                “Teteh juga sudah bilang begitu pada Sasha. Maaf, ya, Neng Nurul, Teteh hanya berusaha menyampaikan amanah ini dari Sasha, karena Sasha belum berhasil menemukan uangnya di kamarnya,” terang Teh Ifah.
                “Tapi, kan, tidak perlu menuduh Nurul, Teh,” bantah Nurul lagi.
                Teh Ifah hanya tersenyum. Ia pun merasa tidak enak untuk menyampaikan pesan dari adik kosannya itu. Namun, ia harus berusaha tetap netral pada masalah yang terjadi di rumah yang jadi tanggung jawabnya ini.
***
                Keesokan harinya, terdengar kabar bahwa Sasha sudah menemukan uangnya. Terselip di salah satu kantong dalam tasnya. Seperti yang sudah-sudah, ia tetap merasa tidak perlu meminta maaf pada Nurul. Ia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
                Nurul yang kemarin sempat menjadi bahan pembicaraan di kosannya hanya bisa mengelus dada. Kalau saja ia tidak ingat, ini adalah tahun terakhirnya di kampus. Kalau saja ia tidak perlu mencari tempat kos dengan harga yang terbatas. Ingin rasanya ia pindah saja dari tempat ini. Daripada harus berkali-kali dibuat kesal tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi, kali ini pilihannya hanya satu. Bersabar.
***
                [Mom, Sasha nggak mau pindah dari sini. Sasha kerasan di sini]
                Sasha sepertinya sedang menelpon ibunya. Nurul yang hendak keluar dari kamarnya urung membuka pintu.
                [Teman-teman Sasha di sini baik, Mom. Apalagi Teh Nurul, sering sekali direpotin sama Sasha, tapi tetap baik sama Sasha....]
                Nurul tidak ingin lagi mendengarkan lanjutan percakapan antara ibu dan anak itu. Orang yang paling dibencinya selama ini ternyata...menganggapnya baik?

               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia, laki-laki dari masa lalu

self efficacy

terimakasih