Masakan Mba Dina

Tampak seorang ibu sedang membawa mangkuk berukuran kecil dari pintu depan rumah. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka dengan apa yang baru saja diterimanya.
Ya, mangkuk itu adalah pemberian dari tetangganya yang tinggal di sebelah kanan rumah. Di dalamnya ada sop iga buatan yang baru saja dibuatnya pagi ini.
Terdapat tiga potong iga yang tampak menggugah selera, belum lagi harumnya yang sudah tercium sejak dari pintu.
Jadi, apa yang salah?
"Lagi-lagi begini," keluhnya.
Ia kemudian menaruh mangkuk itu di atas meja makan tanpa mencoba isinya dulu.
***
"Bu, hari ini Ibu membuat sop iga ya?"panggil seorang anak yang baru saja melirik isi meja makan sepulang sekolah.
Tas dan sepatunya belum juga dilepas. Namun, hidungnya mencium harum tidak biasa dari meja makan. Ini membuatnya melupakan sejenak kebiasaannya menaruh sepatu ketika masuk rumah.
Anak itu segera mengambil sendok kemudian mencicipi kuah dari sop iga yang terhidang di meja.
Hoek, terdengar suara orang memuntahkan makanannya.
"Buatan Mba Dina ya, Bu?" tanya anak itu pada ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.
Ibu mengangguk. Rupanya ibu lupa untuk membuang sop iga itu.
Ia terlalu kesal pada tetangganya itu. Setiap hari selama sepekan ini selalu saja mengirimkan masakan yang dibuatnya. Memang niatnya baik, tetapi semua makanannya hampir tidak bisa dimakan.
Terlalu asin. Terlalu pedas. Bahkan tak jarang terlalu matang hingga kegosongan.
"Maafin Ibu, Bud, tadi ibu belum sempat mencoba dan membetulkan rasanya," jelas ibu.
Budi, yang baru saja mengambil air dari kulkas hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Mungkin seharusnya Ibu panggil Mba Dina untuk mengajarinya masak," usul Budi lagi.
Ibu menggeleng, merasa hal itu tidak perlu. Dina bisa saja merasa tersinggung bila ditawari belajar masak oleh ibu.
Selama ini ibu selalu berkomentar positif di depan Mba Dina, hanya untuk menjaga perasaan juga untuk menghargai pemberiannya.
"Kasihan, Bu. Jika tidak ada yang mengingatkannya, mungkin ia tidak berpikir ada yang salah dengan masakannya," usul Budi lagi.
Ibu merasa usul Budi ada benarnya. Dina,  tetangganya itu pernah bercerita, bahwa ia berniat membagikan masakannya itu ke seluruh tetangga di sekitar rumahnya.
Ibu tidak bisa membayangkan komentar tetangga yang lain setelah mencicipi masakan Mba Dina. Ia harus menolong tetangganya itu.
***
Esok paginya, setelah belanja di pasar,  ibu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Mba Dina.
"Assalamu' alaikum, Mba Dina, ini Ibu Budi, Mba," ujar ibu di depan pintu.
Terdengar langkah orang datang menghampiri pintu.
"Eh, Ibu. Silahkan masuk, Bu," Mba Dina mempersilahkan ibu masuk ke ruang tamunya.
"Mba Dina mau masak apa hari ini?" Ibu bertanya karena melihat tumpukan kantong plastik berisi sayuran di atas meja tamu.
Mba Dina tersenyum malu. Rupanya ia lupa membawa belanjaannya ke dapur. Sepulang belanja ia sibuk mencari resep di internet, resep yang kemarin sudah dicatatnya terselip entah dimana.
"Ini ibu bawakan kue untuk Mba Dina. Balasan dari pemberian Mba Dina setiap hari, malu Ibu, belum pernah memberikan Mba Dina apa-apa," jelas ibu menyampaikan maksudnya datang kesini.
"Ibu, seharusnya Ibu tidak perlu repot-repot begini. Masakan Dina diterima saja oleh Ibu, Dina sudah senang sekali," Mba Dina tiba-tiba saja murung, "Bu Mari hampir tidak pernah lagi mau menerima pemberianku, Bu, katanya masakanku tidak enak,"
Ibu merasa diberikan kesempatan untuk mengatakan hal yang mengganjal hatinya selama sepekan ini.
"Memangnya Mba Dina tidak pernah mencoba masakan buatan Mba Dina sendiri?" tanya Ibu penasaran.
Mba Dina menggeleng. Ia hanya membuatnya tiga porsi makan, untuk dua tetangga di sebelah kanan dan kiri rumah. Satu lagi untuk makan malam suaminya.
Untuk dirinya, biasanya ia menggoreng telor ceplok andalannya.
Pantas saja, pikir Ibu.
"Mau ibu bantu masak, Mba?"
Mba Dina memandang Ibu dengan tatapan tak percaya, "Ibu benar mau mengajari aku? Dengan senang hati, Bu, aku mau."
Hari itu, Mba Dina ingin membuat capcay. Mba Dina diminta ibu untuk mengiris wortel, sawi, bakso dan jagung semi, sedangkan ibu yang menyiapkan bumbunya.
Tak lupa ibu, membacakan resepnya agar Mba Dina mengetahuinya.
Bawang putih, bawang bombay, merica, saus tiram. Tak lupa ibu juga menyiapkan larutan maizena untuk mengentalkan kuahnya.
Mba Dina memasak di bawah arahan ibu. Diajari untuk mencicipi masakannya untuk proses koreksi rasa, hal yang hampir tidak pernah dilakukannya. Mba Dina selama ini merasa percaya diri dengan resep yang ditemukannya di internet.
Sambil memasak, Mba Dina bercerita tentang ibunya yang meninggal sejak ia kecil. Selama ini Mba Dina jarang sekali masak, karena tidak pernah ada yang mengajarinya. Ia terbiasa membeli makanan catering atau bahkan terkadang menyantap makanan siap saji.
Setelah menikah barulah ia 'terpaksa' memasak untuk suaminya.
Ibu tersenyum.
Pantas saja. Mba Dina benar-benar pemula. Hebat sekali ia sudah percaya diri membagikan masakannya pada orang lain. Ketika ibu bertanya mengapa ia rutin melakukannya, jawaban Mba Dina membuat ibu malu.
Supaya tidak ada tetangganya yang hanya mencicipi aroma masakannya saja, tetapi bisa mencobanya.
Ibu saja yang sudah bertahun-tahun tinggal di situ belum pernah melakukan itu.
Ibu pun pamit pulang. Tak lupa di tangannya ada mangkuk berisi capcay buatan Mba Dina, yang memaksa agar ibu mau membawanya pulang. Yang istimewa, dalam mangkuk itu ada nilai-nilai kebaikan yang membuat Ibu merasa harus mencontohnya. Segera.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia, laki-laki dari masa lalu

self efficacy

terimakasih