Postingan

Penerimaan

Ini tentang mereka, yang lakunya mirip dengan dia. Bagaimana tidak, mereka memang punya hubungan darah, kan? Maka, belajar menerima. Belajar tetap menyayangi. Meskipun sulit, tapi bisaa

Cerita yang Paling Ingin Kutulis

Ada satu kisah tentang luka yang begitu ingin kusampaikan pada dunia. Ini tentang bagaimana aku, marah pada takdirku hingga akhirnya ridha pada apa pun skenario dari-Nya. Tentang bagaimana mereka yang ada di sekelilingku dan tidak menganggapku penyakitan yang layak dikasihani. Tentang aku yang mencoba terus bergerak, mencari hikmah dan membaca pesan cinta dari-Nya. Tentang dua hati manusia yang terus berusaha dijaga hatinya dari masalah orang dewasa yang tidak ada kaitannya dengan mereka. Tentang memulai hidup baru yang didamba, juga menata hidup yang dipunya. Mulai dari mana, semua kerangkanya sedang ditulis. Sudah hampir sepertiga bulan, seharusnya sudah lebih dari setengah jalan. Namun, nampaknya perlu lebih banyak riset lagi. Mari mundur selangkah untuk berlari lebih konstan di hari-hari ke depan.

Mereka yang Pernah Bercerita

Mari kita memandang, lalu memeluk erat tubuh mereka. Dengan perasaan tulus, hati yang ikut berbahagia dengan kebahagiaan hidup yang sedang mereka rasa. Mereka yang pernah berbagi cerita, menumpahkan kekesalan tentang pasangannya di hadapanku. Lalu meminta pendapatku. Jelas, aku tidak bisa memberi opini apa-apa. Aku sudah melangkah, ke sisi sebelah sini, saat tidak ada pilihan untuk kembali dan telah memikirkan berbagai opsi. Namun, aku tidak sekali pun berharap, kalian yang bercerita akan mengekor ke belakangku. Kuharap tidak perlu. Pasangan kita 'memang' bersalah di mata kita, tetapi cermin mengatakan bahwa ada laku kita yang punya andil salah juga. Dan, sabar itu sebentar. Ia adalah keutamaan hanya untuk orang-orang pilihan. Lalu sekian cerita selalu kuakhiri dengan doa-doa rahasia agar...kalian bahagia. Maka ketika... Kulihat senyum kalian yang sedang berkendara bersama pasangan, lalu kabar rujuk yang terdengar. Aku bahagia...sungguh. Lalu ketika, mendapat kabar ...

Sarapan Mudah, Hemat dan Bergizi

Pernah mendengar jadwal makan harian? Apa yang boleh dimakan di hari tertentu dan tidak boleh diminta di hari yang lain? Mungkin terdengar aneh dan asing bagi sebagian orang, tetapi bagiku ini justru memudahkan. Mengapa memudahkan? Kami di rumah jadi punya variasi menu setiap harinya, selain itu kami jadi belajar untuk menahan diri agar tidak terus-terusan mengikuti keinginan. Setiap hari Rabu, aku dan anak-anak boleh memakan es krim. Dan, entah mengapa, anak-anak sangat mudah mengingat hari Rabu. Setiap hari Kamis, dua pekan sekali, kami boleh memakan mie instan dan teman-temannya. Apakah di hari lain benar-benar tidak boleh makan dua hal tersebut? Tentu saja fleksibel ya, bila sedang di acara pernikahan yang notabene weekend maka aku tidak bisa melarang mereka untuk memakan es krim. Kalau untuk sarapan bagaimana? Hm, biasanya aku tidak mementingkan sarapan, apalagi dengan agenda pagi yang masih berantakan seringkali sesi sarapan ini terlewat. Hingga terjadilah dua peristiwa ...

Apa yang Harus Kutulis?

Apakah seseorang yang mempunyai blog berarti selalu punya ide dalam otaknya? Apakah itu berarti selalu ada bahan tulisan yang menarik yang akan banyak dibaca orang? Tidak juga. Beberapa kali blog ini ramai karena sang empunya sedang mengikuti beberapa tantangan dari beberapa komunitas menulis yang ia ikuti. Namun, tak jarang blog ini menjadi sepi, hingga banyak sarang laba-laba di sana-sini, lalu harus bebersih lagi. Menulis sesuai tema atau menulis sesuai feeling ? Bagi seorang penulis pemula sepertiku, menulis artinya menulis saja. Mau sesuai tema, mangga . Mau sesuai dengan kondisi yang dirasakan juga bisa. Intinya menulis saja dulu. Beberapa kali tulisan-tulisan pendek belum juga di- publish karena masih belum memenuhi syarat jumlah kata. Disimpan saja dalam draft. Beberapa malah hanya berupa judul saja, ketika mau dilanjut sang penulis bahkan lupa ingin menulis apa. Dibantu dengan tema, seharusnya bisa memudahkan semua orang yang ingin belajar menulis. Ia hanya tinggal ma...

Khadija yang Dicinta

Sosok Khadija bukan tanpa alasan menjadi sosok yang begitu didamba. Padahal sebelumnya sosok Aisyah justru terlihat begitu sempurna, setidaknya bagiku. Menuliskan nama Aisyah disandingkan dengan namaku, adalah doa agar kelak aku bisa seperti dirinya. Sholehah dan cerdas, juga harapan romantisme pernikahan seperti yang dipunya Aisyah dan Muhammad. Namun, setelah menikah, dan aku diprediksi hamil anak perempuan, entah mengapa aku lebih menyukai nama Khadija. Aku tak hendak membandingkan keduanya, karena itu jelas bukan hal bijaksana. Keduanya adalah orang yang paling dicintai Nabi kita, the best man in the world. Ini hanya murni pendapat pribadi saja, semoga semakin semangat untuk meneladani sifat-sifat mulia dari kedua ummahatul mukminiin ini. Nama Khadija disematkan pada nama anak perempuanku, sudah semenjak aku tahu bahwa dia berjenis kelamin perempuan. Mengapa disematkan dengan sifat Shaabira : memperkuat kesabaran? Mengapa bukan Syakira? Begini lho, biasanya kan sabar itu i...

Shaabira Khadija, Hadiah Kesabaran

Prosesnya sudah terjadi lama, tetapi hikmahnya masih bertebaran di setiap saat aku mengingatnya. Kelahiran spesial hampir 5 tahun yang lalu. Proses kehamilan yang tidak terlalu menyenangkan. Bukan, bukan karena aku tidak menginginkan hamil dan memiliki anak. Justru aku sudah punya mimpi untuk memiliki 5 anak yang lucu-lucu dan menggemaskan. Tidak menyenangkan karena saat itulah riak-riak pertama datang sebelum akhirnya badai menerjang dan memporak-porandakan bahtera rumah tanggaku. Aku memaksa diri tidak boleh bersedih karena aku tahu perasaan ibu akan berpengaruh pada anak. Namun, ada air mata yang memaksa mengalir walau aku berusaha menahan. Semua hal yang seharusnya tidak boleh ada ketika seorang ibu sedang hamil malah kualami. Seolah-olah Allah sedang membukakan mataku untuk melihat siapa sebenarnya orang yang menjadi pasanganku. Belum lagi proses kelahiran sebelumnya yang menimbulkan luka membuatku agak takut melakukan proses persalinan di rumah sakit. Aku mau melahirkan den...