Setelah Kebaikan Pertama

                 Pernah kesulitan untuk memulai kebaikan?
                Ya, rasanya semua orang pernah mengalaminya ya. Sesuatu yang belum pernah dilakukan pasti akan sulit di kali pertama. Tapi, kalau kesulitan memulai karena tidak tahu apa yang harus dilakukan di kali pertama, mungkin kita menghadapi masalah yang sama.
                Aku sudah tinggal di komplek ini selama beberapa bulan. Sayangnya, hampir semua yang tinggal di sini terbagi menjadi dua golongan. Golongan pekerja yang pergi pagi pulang malam. Satu lagi, golongan penduduk pekanan alias hanya datang ke rumah ini ketika akhir pekan. Walhasil, aku bahkan tidak mengenal siapa tetangga sebalah kanan dan kiri.
                Rumahnya asri dan nyaman. Anak- anak bisa bermain di jalanan depan rumah tanpa khawatir ada kendaraan yang lalu lalang. Satpam komplek selalu menjaga 24 jam. Aku yang pelupa dan pernah beberapa kali meninggalkan kunci tergantung di pintu bahkan tidak perlu khawatir, karena tidak semua orang bisa masuk ke komplek ini.
                Alasan inilah yang membuatku tetap memilih tinggal di sini, walaupun merasa bersalah karena tidak bisa bergaul dengan tetangga.
***
                “Pak, curhat dong,”keluhku pada suami.
                “Lah, emang aku kelihatan seperti Mamah Dedeh,”ujarnya melucu.
                Aku mencubit lengannya. Wajahku sudah menunjukkan ekspresi serius dan butuh solusi konkrit, malah ditanggapi dengan guyonan.
                “Aku masih kesulitan berinteraksi dengan ibu-ibu di sini. Jarang sekali bisa bertemu dengan mereka. Saat membeli sayur, biasanya hanya asisten rumah tangganya yang belanja. Bukan ibu-ibunya”
                Suami menunjukkan ekspresi serius mendengarkan.
                “Memang interaksi seperti apa yang kamu harapkan, Bu?”tanyanya, “Buat kami para Bapak, saling berbasa-basi pagi hari, melempar senyum atau hanya menekan klakson mobil ketika berpapasan sudah cukup. Mereka sudah sibuk dengan aktivitasnya di kantor. Wajar kan, kalau di rumah mereka lebih memilih beristirahat, mungkin juga tidak ingin diganggu.”
                Ah, benar juga ya. Mungkin memang beginilah gaya hidup di perkotaan.
Aku membandingkan dengan suasana di rumah Mama yang bukan komplek, pengajian tiap dua pekanan, arisan bulanan, saling ‘nyamper’ ketika ada hajatan tetangga. Rasanya asyik sekali ketika bisa banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama tetangga.
“Jadi, sebaiknya aku menerima saja ya dengan kondisi ini?”jawabku dengan wajah masih ditekuk. Tidak puas.
Suamiku hanya mengangkat bahu. “Kamu bisa memulai berinteraksi dengan mereka, tetapi kamu juga harus siap menerima reaksi apapun yang akan mereka perlihatkan ketika melihat sikap ‘SKSD’-mu,” jelasnya sambil berlari menjauh, karena aku sudah siap-siap melempar bantal ke arahnya.
***
Dua pekan berlalu. Aku hampir saja merasa pasrah bila ternyata memang tidak ada hal yang bisa kulakukan untuk memulai bersosialisasi di lingkungan rumahku.
Sampai aku membaca tulisan di Facebook, sebuah hadits yang berbunyi saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling menyayangi. Ah, ini mungkin jawaban dari kebingunganku.
Aku segera menghubungi temanku yang biasa membuat bingkisan hadiah. Untuk awalan, aku memesan 6 bingkisan saja, untuk tetangga terdekat dari rumahku.
***
“Pah, mau curhat,”keluhku.
“Lagi?”godanya.
“Ternyata berbuat baik itu tidak semudah yang kita kira ya. Tadi pagi, aku antarkan bingkisan itu kepada para tetangga, baru dua orang saja. Bisa menebak bagaimana reaksi mereka?”
Suamiku menggeleng.
“Yang pertama, ia malah balik bertanya berapa harga bingkisannya, mungkin ibu itu berpikir aku sedang jualan, ya, Pak?” jelasku.
Kulihat suamiku menahan senyum, lalu bertanya “Kalau yang kedua?”
Aku membayangkan lagi kejadian tadi pagi. Tatapan heran bapak penghuni rumah di depanku ketika menerima bingkisan dariku. Seolah-olah yang kulakukan sangat aneh dan belum pernah terjadi di sini.
Suamiku kali ini tak bisa lagi menahan senyumnya, ia menertawakan sambil menjawil pipi tembemku.
“Kan sudah kubilang. Kamu harus siap menerima apapun reaksi mereka ketika kamu berbuat baik. Kita tidak bisa menyamakan mereka dengan orang-orang di sekitar rumah ibumu.”
Aku menatapnya, seolah mempertanyakan mengapa ia bisa tahu aku membandingkan kondisi rumah di sini dengan di rumah Mama.
“Aku pun tinggal di kawasan seperti ini sebelumnya. Kami terbiasa menjadikan rumah hanya sebagai tempat istirahat saja. Aku sempat kaget ketika menginap di rumah Mama, begitu banyak tamu datang silih berganti. Bahkan ada yang datang untuk meminta bawang. Reaksi Mama lebih membuatku kaget, ia tampak hangat melayani semua tamunya. Padahal ia bukan ibu RT.”
Aku mengangguk-angguk. Mencoba memahami penjelasannya. Perbedaan kultur, padahal masih satu kota. Sulit bukan berarti tidak bisa dicoba, kan?
Masih ada 4 bingkisan lagi yang belum kuantar, masih ada waktu berbulan-bulan sampai masa sewaku di rumah ini habis. Setelah ini, mau coba melakukan apa lagi, ya...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia, laki-laki dari masa lalu

self efficacy

terimakasih