Pilihan Tania
Tania
mematikan mesin mobilnya. Ia melihat ke sekeliling tempat parkir. Tempat ini,
rutin ia datangi tiap pekan setahun kemarin. Tidak lagi semenjak kejadian itu.
Ia bahkan menghindari jalan ini kendatipun sering mengunjungi tempat-tempat di
sekitar sini.
Tania tidak
tahu, apakah sebenarnya ia sudah siap kesini? Tapi tadi pagi, ia tampak
bersemangat menyiapkan ketiga anaknya untuk mandi lalu bersiap-siap pergi.
Taufan dan Tasya sudah bertanya sejak tadi, mereka akan kemana, sedangkan Tari,
si bungsu yang belum bisa berbicara hanya ikut berceloteh khas bayi, mengikuti
kakak-kakaknya.
Sekarang,
setelah sampai, ketiganya malah tertidur pulas di mobil, memberikan waktu jeda
bagi Tania untuk kembali mempersiapkan dirinya.
***
“Kita mau
kemana, Bun?”tanya Taufan ketika sudah duduk di bangku penumpang.
Tania tidak
langsung menjawab, ia masih ragu dengan tujuannya sendiri.
“Kita
jalan-jalan dulu ya, Bang.”jawabnya mencoba memuaskan penasaran Taufan. Tidak
biasa bagi Tania pergi tanpa tujuan, ia terbiasa terjadwal, karena agendanya
selalu penuh di akhir pekan. Hari ini memang pengecualian. Tania mengosongkan
semua agendanya untuk hari ini.
Belum setengah
jalan, anak-anak sudah mulai tidur satu-satu. Anak zaman sekarang, lebih mudah
tertidur di atas kendaraan. Biasanya Tania melarang anaknya tidur ketika hendak
pergi, ia akan kesusahan untuk menggendong mereka bertiga. Padahal bila dipaksa
dibangunkan, anak-anak mudah tantrum, menangis dan merengek minta digendong.
Kali ini, ia bahkan merasa bersyukur anak-anaknya tidur. Ini akan
menguntungkannya, begitu pikir Tania.
[Tania, jadi
datang kemari, kan?]
Pesan singkat
masuk di gawainya. Pesan yang membuatnya gelisah. Ia hanya tinggal membangunkan
anak-anaknya lalu berjalan menyusuri lorong di sebelah tempat parkir ini. Tidak
akan sampai sepuluh menit. Tapi, ia benar-benar belum siap.
***
[Tania,
seorang istri itu harusnya bisa menurut sama suami. Tidak seenaknya saja bisa
meninggalkan suaminya di rumah sendirian]
Pesan
pertama setelah kejadian itu.
[Tania,
Tedy mungkin hanya lulusan SMP, sehingga kamu merasa hina jika harus terus
berdampingan dengannya]
[Sekarang
Tedy uring-uringan lagi. Sebelumnya ia sudah mulai sadar, mulai memperbaiki
diri lagi. Tapi, lalu kamu menolaknya? Kenapa?]
[Jangan
egois, pikirkan juga ketiga anakmu yang akan hidup tanpa bapaknya]
Pesan-pesan
itu masih berlanjut. Isinya kurang lebih sama. Memojokkan, menyalahkan dan
tidak bisa dibantah. Tania memang tidak ingin membalasnya. Lawan bicaranya
sedang emosi, tidak ada gunanya membela diri. Walaupun ia merasa, ia berada di
pihak yang benar, tindakannya benar.
Tania
baru saja menolak permohonan rujuk dari mantan suaminya, Tedy.
Tedy
yang selingkuh. Tedy yang dengan mudah tidak pulang berhari-hari. Tedy yang
meminta Tania untuk berbicara di telepon dengan seseorang yang mengaku teman
dekat Tedy, lantas perempuan itu memaksa Tania ikhlas berbagi. Berbagi apa, pikir Tania.
Tedy
yang dengan mudah merokok di depan anak-anak, padahal Tania dulu memberikan
syarat bahwa ia hanya mau menikah dengan laki-laki yang tidak merokok.
Tedy
yang menghancurkan hidupnya. Lalu dengan mudah mengucapkan talak. Kalimat yang
membebaskan Tania dari statusnya sebagai istri yang merasa dizalimi.
Lantas
tiba-tiba Tedy datang lagi. Memohon-mohon agar Tania mau menerimanya lagi.
Tania
menolak. Tania bahkan masih mencium bau asap rokok dari baju Tedy.
Lalu
pesan-pesan itu mulai berdatangan. Dari ibunya Tedy.
Tania
tak tahu apa yang sudah Tedy sampaikan pada ibunya, sehingga ibu menjadi demikian
marah dan menyalahkan Tania. Tania pikir, ia berhak memilih apa yang ia pikir
benar untuk masa depannya. Menolak Tedy adalah hal paling logis yang Tania bisa
pilih.
***
Anak-anak
mulai bangun. Tania memandangi ketiga anaknya sambil tersenyum. Kali ini, ia
sudah yakin atas pilihannya.
Ia
memilih melupakan semua pesan-pesan dari Ibu saat emosi, melupakan sejenak
bahwa luka hati yang anaknya torehkan masih terasa begitu nyata.
Tania turun
dari mobilnya bersama anak-anak.
Silaturrahim
ke rumah Ibu.
Komentar
Posting Komentar