Ketika Adik Berbohong
Kesepakatan Bunda dan Adik
Adik akan
1. Memakai kerudung setiap bepergian keluar rumah
2. Menghafal surat An-Naba, minimal 1 hari 1 ayat
3. Menonton film 1x/hari setelah mandi
4. Melakukan kegiatan yang bersifat pengembangan motorik halus, misal menebalkan huruf dan angka, menggunting dan menempel
Tertanda
Ibu Adik
***
Perjanjian
di atas kami buat sepekan setelah lebaran usai. Pasti akan muncul beragam
pertanyaan. Berikut FAQ (Frequently Asked Question) yang berhasil kami susun.
1. Apakah setiap keluarga membutuhkan poin kesepakatan ini?
Ini sebetulnya pilihan, ada keluarga yang mau berjalan seperti biasa saja, ada juga keluarga yang mempunyai targetan-targetan dalam hidup. Kami sedang berhijrah dari keluarga tipe satu menjadi keluarga tipe dua. Dengan kesepakatan-kesepakatan ini, setiap anggota keluarga bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih baik dengan lebih terukur dan terevaluasi.
2. Siapa yang memilih poin-poinnya?
Itu adalah kesepakatan antar anggota keluarga. Rentang usia adik dan abang sebenarnya tidak terlalu jauh, namun ada poin-poin yang berbeda sehingga Bunda membuat kesepakatan dengan abang dan adik pada waktu yang berbeda. Saat membuat dengan abang, abang banyak memberi masukan soal tiap poinnya, juga banyak melakukan negosiasi. Dengan adik, Bunda yang menawarkan beberapa pilihan dan adik mengangguk tanda setuju.
3. Mengapa hanya empat?
Jumlah poin kesepakatan sebenarnya bebas, tetapi karena usia adik akan genap empat tahun November nanti, kami memutuskan akan mencoba memulai dengan empat kesepakatan. Untuk abang, kami membuat enam kesepakatan, juga disesuaikan dengan usia.
4. Kapan waktu yang tepat untuk membahas kesepakatan ini?
Saat Bunda dan anak dalam kondisi tenang, tidak terburu-buru juga tidak dalam kondisi mengantuk.
5. Mengapa anak usia empat juga diajak membuat kesepakatan?
Karena anak usia empat, walaupun masih kecil, sudah bisa diajak untuk menentukan hal-hal apa yang boleh ia lakukan dan apa yang tidak boleh, juga untuk menghargai adik di dalam keluarga. Usianya boleh paling muda, namun ia juga adalah bagian dari keluarga kami yang boleh mengemukakan pendapatnya.
Pertanyaan
nomor enam adalah pertanyaan yang sulit dijawab, bagaimana kami menjalani
kesepakatan ini?
Kesepakatan
yang dibuat tertulis adalah hal baru bagi kami, rasanya sulit untuk konsisten
mengevaluasi keberjalanan kesepakatan ini setiap hari. Apalagi kami memulai ini
dalam kondisi libur lebaran yang membuat kegiatan kami seringkali tidak
terduga. Namun karena kami buat ini bersama-sama, sampai saat ini kami masih
sama-sama belajar untuk saling menyemangati dan mengingatkan. Yang penting,
kami jadi selalu punya waktu untuk berbicara tentang kami, setiap hari.
Berikut
beberapa kisah selama sepekan pertama menjalani kesepakatan dalam keluarga.
Kisah 1
Tampak
seorang anak laki-laki menenteng celananya menghampiri Bunda,
“Bunda, Abang
sudah bisa cebok sendiri. Boleh Abang tambahkan bintang di buku Abang?” ujar si
sulung setelah selesai BAB.
Bunda
mengangguk, membiarkan Abang membuat bintang sendiri sambil tersenyum.
Tidak
ada lagi teriakan panggilan meminta bantuan Bunda, tidak ada lagi Bunda yang
suka cemberut di depan toilet karena diminta menemani anak BAB.
Sesekali
Abang masih meminta bantuan Bunda, bukan karena tidak bisa melakukannya, tetapi
karena Abang meminta perhatian lebih dari Bunda. Bunda akan memenuhi hak
perhatian itu sebisa mungkin.
Untuk
Abang, bab kemandirian sudah mulai diterapkan, poin kesepakatan dengan Abang
adalah melakukan aktivitas di toilet sendiri, dalam pengawasan.
Beberapa
kali, adik juga meminta diberi gambar hati (untuk adik, ia tidak memilih
bintang sebagai tanda sukses, tetapi gambar hati) ketika bisa cebok BAK sendiri.
Tetapi karena poin kemandirian ini belum ada pada kesepakatan dengan adik, maka
Bunda hanya tersenyum menanggapi permintaan adik.
Kisah 2
Suatu
ketika, karena televisi masih diletakkan di tempat paling strategis di rumah
kami, maka seringkali refleks Bunda ketika bangun tidur adalah mencari remote televisi kemudian menyalakannya
di depan anak-anak.
Lalu
ada suara kecil yang menegur,
“Bunda,
Bunda kan belum mandi, kenapa kalau Abang sama adik harus mandi dulu sebelum
nonton, tapi Bunda boleh nonton padahal Bunda belum mandi?”
Skak
mat. Bunda hanya tersenyum kecut karena merasa dikalahkan oleh anak enam tahun.
Lalu kemudian menyadari kesalahan diri, mematikan televisi dan menyiapkan
aktivitas-aktivitas pengantar mandi bersama anak-anak seperti main busa,
mengecat tanah liat atau sekedar berjemur di balkon atas.
Kisah 3
Kali ini
tentang adik, yang entah mengapa bisa mengambil ponsel Bunda yang sedang salat
lalu memulai menonton acara kesukaannya di youtube.
Selesai
salat, tante yang menemani adik nonton memanggil Bunda dan menanyakan apakah
benar adik sudah minta izin kepada Bunda untuk menonton. Bunda menggeleng
sambil menatap adik. Adik segera memberikan ponsel Bunda sambil terlihat sedih.
Bunda
mengajak adik ke kamar. Adik berpikir bahwa kami akan meninggalkan abang di
luar dan mulai tidur lebih awal. Padahal Bunda hendak memberikan konsekuensi
pada adik karena melanggar kesepakatan kami.
“Dadaaa
Abang,”ujar adik riang saat kami menuju ke kamar.
Adik
kaget sekali ketika ternyata Bunda tidak ikut masuk ke kamar dan memintanya
diam menunggu di kamar selama beberapa menit sambil menunggu Bunda mengambil
kipas angin. Jelas adik menangis, menolak dihukum. Bunda juga tidak tega, namun
ini tidak akan berlangsung lama, jadi Bunda berusaha tidak melihat tangis adik.
Setelah
Bunda dan adik sudah di kamar, kami melakukan percakapan ini sambil saling
memeluk,
“Dik,
kok tadi adik ambil ponsel Bunda tanpa izin. Bunda sedih deh, pas tahu kalau adik menonton di luar jam kesepakatan kita dan
bilang sudah minta izin Bunda,”mulai Bunda dengan nada lembut.
Jawaban
adik di luar perkiraan Bunda
“Adik
sebenarnya sudah mau bilang sama Bunda, tapi kan Bunda lagi salat dan salatnya
lama,” ujarnya. Salat empat rakaat adalah waktu yang menurutnya cukup lama
untuk menunggu. Bunda menahan diri untuk tidak tersenyum di depannya, kan ini
sesi konsekuensi.
Berarti
adik memang tidak berniat berbohong dan tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya
itu salah.
Beberapa
saat sesudah itu, adik membisiki Bunda dengan kalimat pamungkasnya setiap Bunda
marah
“Bunda,
kalau Bunda marah, nanti Allah marah lho.”
Andai raut
muka itu bisa direkam dan diperlihatkan pada semua orang.
Bunda pun
bertanya balik, “Kalau anaknya ‘nakal’ gimana, dong?”
“Makanya
Bundanya salatnya jangan lama-lama, jadi adik nggak harus mengambil ponsel
Bunda duluan.”
Krik..krik..
Jawaban asal
dari mulut anak empat tahun ini membuat Bunda makin mensyukuri telah membuat
kesepakatan dalam keluarga kami. Bunda jadi punya kesempatan untuk menanamkan
nilai-nilai dalam keluarga kami dengan cara sealami mungkin.
Ada yang mau
mencoba membuat kesepakatan dengan anggota keluarga di rumah?
Selamat
menikmati prosesnya.
Komentar
Posting Komentar