"Teteh sudah ingat aku, ya?"tembaknya. Aku mengangguk. "Abi kan ya..hehe..dari kemarin aku kira siapa ini ada orang SKSD. Ternyata Abi. Sehat, Bi?" Ia terlihat senang karena aku mengingatnya. "Aku sehat, Teh" Dan kami terlibat obrolan santai sampai akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya. "Teteh sudah menikah, kan?" Pertanyaan retoris. Harusnya ia tahu jawabannya. Aku kemarin menggendong seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip denganku. Kalila, anak sematawayangku. Sebelum menjawab, aku menghela nafas panjang. "Aku bercerai, Bi."terangku, "Tiga tahun yang lalu." Aku tak mengerti mengapa bisa semudah itu menjelaskan pada Abi. Apakah karena aku masih menganggapnya 'anak kecilku'. Dulu, setiap kali bermain aanjangan. Abi selalu berperan sebagai anakku, ia manut saja ketika 'kusuapi makanan dengan sendok', lalu kugandeng tangannya sambil berjalan-jalan ke 'pasar buah...
Tampak seorang ibu sedang membawa mangkuk berukuran kecil dari pintu depan rumah. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka dengan apa yang baru saja diterimanya. Ya, mangkuk itu adalah pemberian dari tetangganya yang tinggal di sebelah kanan rumah. Di dalamnya ada sop iga buatan yang baru saja dibuatnya pagi ini. Terdapat tiga potong iga yang tampak menggugah selera, belum lagi harumnya yang sudah tercium sejak dari pintu. Jadi, apa yang salah? "Lagi-lagi begini," keluhnya. Ia kemudian menaruh mangkuk itu di atas meja makan tanpa mencoba isinya dulu. *** "Bu, hari ini Ibu membuat sop iga ya?"panggil seorang anak yang baru saja melirik isi meja makan sepulang sekolah. Tas dan sepatunya belum juga dilepas. Namun, hidungnya mencium harum tidak biasa dari meja makan. Ini membuatnya melupakan sejenak kebiasaannya menaruh sepatu ketika masuk rumah. Anak itu segera mengambil sendok kemudian mencicipi kuah dari sop iga yang terhidang di meja. Hoek, terdengar...
Fitri membungkus sendiri nasi uduk, telur dadar iris dan tempe orek buatannya sesudah salat Subuh. Hanya jadi dua belas bungkus, meleset dari perkiraannya sebanyak lima belas bungkus. Namun Fitri tidak patah semangat, dua belas bungkus pertama ini akan selalu ia ingat selamanya. Berawal dari pengalamannya yang selalu saja tidak sempat menyiapkan sarapan sebelum ke kampus. Ia akan menahan lapar sampai jam kuliah usai, kalau hanya satu mata kuliah, mungkin agak mendingan. Tapi, bila harus dua mata kuliah, maka nyanyian dalam perut akan lebih mirip seperti teriakan demonstran saat aksi protes di gedung pemerintahan. Fitri sadar bahwa kemampuan masaknya terbatas, maka ia hanya punya satu orang yang ia pikir bisa membantu niatnya ini. Ibunya. Sayangnya, ternyata ibunya tidak mendukung. Fitri masih ingat ketika ibunya meremehkan keinginannya itu. Ibunya bilang, dengan budget yang ia miliki, apa yang ia lakukan akan menjadi sia-sia belaka. Fitri pun sadar, budgetnya sangat terbat...
Komentar
Posting Komentar