kepercayaan akan kemampuan diri untuk melakukan sesuatu sampai beres dengan hasil sukses. inilah yang dibutuhkan seorang ibu untuk mendampingi titipan dari Allah sepanjang waktu yang ia bisa. iya, saya punya banyak kelemahan. Masak MPASI ngga sukses, menyapih terpaksa sebelum dua tahun buat Abang, bikin crafting ngga bisa..bahkan mengajarkan surat Al-Fatihah aja malah keduluan sama tantenya. iya, saya juga dalam proses belajar. ikut kegiatan parenting sana-sini, ikut komunitas ini-itu, semuanya demi melengkapi keterbatasan saya saat mendampingi buah hati. saya mau, anak-anak dapat apa yang seharusnya jadi hak mereka, dari saya. dan ternyata, di ngobras (ngobrol bareng sabumi_komunitas homeschooling bandung) yang saya ikuti sabtu kemarin, saya dapat istilah yang jadi judul tulisan kali ini. mungkin kalimat dalam slide ini yang paling membekas dalam pikiran saya, karena saya datang terlambat dan sibuk memperhatikan abang di kidscorner (he, udah nitip di kidsco juga saya masi...
"Teteh sudah ingat aku, ya?"tembaknya. Aku mengangguk. "Abi kan ya..hehe..dari kemarin aku kira siapa ini ada orang SKSD. Ternyata Abi. Sehat, Bi?" Ia terlihat senang karena aku mengingatnya. "Aku sehat, Teh" Dan kami terlibat obrolan santai sampai akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya. "Teteh sudah menikah, kan?" Pertanyaan retoris. Harusnya ia tahu jawabannya. Aku kemarin menggendong seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip denganku. Kalila, anak sematawayangku. Sebelum menjawab, aku menghela nafas panjang. "Aku bercerai, Bi."terangku, "Tiga tahun yang lalu." Aku tak mengerti mengapa bisa semudah itu menjelaskan pada Abi. Apakah karena aku masih menganggapnya 'anak kecilku'. Dulu, setiap kali bermain aanjangan. Abi selalu berperan sebagai anakku, ia manut saja ketika 'kusuapi makanan dengan sendok', lalu kugandeng tangannya sambil berjalan-jalan ke 'pasar buah...
Komentar
Posting Komentar