Postingan

Sarapan Mudah, Hemat dan Bergizi

Pernah mendengar jadwal makan harian? Apa yang boleh dimakan di hari tertentu dan tidak boleh diminta di hari yang lain? Mungkin terdengar aneh dan asing bagi sebagian orang, tetapi bagiku ini justru memudahkan. Mengapa memudahkan? Kami di rumah jadi punya variasi menu setiap harinya, selain itu kami jadi belajar untuk menahan diri agar tidak terus-terusan mengikuti keinginan. Setiap hari Rabu, aku dan anak-anak boleh memakan es krim. Dan, entah mengapa, anak-anak sangat mudah mengingat hari Rabu. Setiap hari Kamis, dua pekan sekali, kami boleh memakan mie instan dan teman-temannya. Apakah di hari lain benar-benar tidak boleh makan dua hal tersebut? Tentu saja fleksibel ya, bila sedang di acara pernikahan yang notabene weekend maka aku tidak bisa melarang mereka untuk memakan es krim. Kalau untuk sarapan bagaimana? Hm, biasanya aku tidak mementingkan sarapan, apalagi dengan agenda pagi yang masih berantakan seringkali sesi sarapan ini terlewat. Hingga terjadilah dua peristiwa ...

Apa yang Harus Kutulis?

Apakah seseorang yang mempunyai blog berarti selalu punya ide dalam otaknya? Apakah itu berarti selalu ada bahan tulisan yang menarik yang akan banyak dibaca orang? Tidak juga. Beberapa kali blog ini ramai karena sang empunya sedang mengikuti beberapa tantangan dari beberapa komunitas menulis yang ia ikuti. Namun, tak jarang blog ini menjadi sepi, hingga banyak sarang laba-laba di sana-sini, lalu harus bebersih lagi. Menulis sesuai tema atau menulis sesuai feeling ? Bagi seorang penulis pemula sepertiku, menulis artinya menulis saja. Mau sesuai tema, mangga . Mau sesuai dengan kondisi yang dirasakan juga bisa. Intinya menulis saja dulu. Beberapa kali tulisan-tulisan pendek belum juga di- publish karena masih belum memenuhi syarat jumlah kata. Disimpan saja dalam draft. Beberapa malah hanya berupa judul saja, ketika mau dilanjut sang penulis bahkan lupa ingin menulis apa. Dibantu dengan tema, seharusnya bisa memudahkan semua orang yang ingin belajar menulis. Ia hanya tinggal ma...

Khadija yang Dicinta

Sosok Khadija bukan tanpa alasan menjadi sosok yang begitu didamba. Padahal sebelumnya sosok Aisyah justru terlihat begitu sempurna, setidaknya bagiku. Menuliskan nama Aisyah disandingkan dengan namaku, adalah doa agar kelak aku bisa seperti dirinya. Sholehah dan cerdas, juga harapan romantisme pernikahan seperti yang dipunya Aisyah dan Muhammad. Namun, setelah menikah, dan aku diprediksi hamil anak perempuan, entah mengapa aku lebih menyukai nama Khadija. Aku tak hendak membandingkan keduanya, karena itu jelas bukan hal bijaksana. Keduanya adalah orang yang paling dicintai Nabi kita, the best man in the world. Ini hanya murni pendapat pribadi saja, semoga semakin semangat untuk meneladani sifat-sifat mulia dari kedua ummahatul mukminiin ini. Nama Khadija disematkan pada nama anak perempuanku, sudah semenjak aku tahu bahwa dia berjenis kelamin perempuan. Mengapa disematkan dengan sifat Shaabira : memperkuat kesabaran? Mengapa bukan Syakira? Begini lho, biasanya kan sabar itu i...

Shaabira Khadija, Hadiah Kesabaran

Prosesnya sudah terjadi lama, tetapi hikmahnya masih bertebaran di setiap saat aku mengingatnya. Kelahiran spesial hampir 5 tahun yang lalu. Proses kehamilan yang tidak terlalu menyenangkan. Bukan, bukan karena aku tidak menginginkan hamil dan memiliki anak. Justru aku sudah punya mimpi untuk memiliki 5 anak yang lucu-lucu dan menggemaskan. Tidak menyenangkan karena saat itulah riak-riak pertama datang sebelum akhirnya badai menerjang dan memporak-porandakan bahtera rumah tanggaku. Aku memaksa diri tidak boleh bersedih karena aku tahu perasaan ibu akan berpengaruh pada anak. Namun, ada air mata yang memaksa mengalir walau aku berusaha menahan. Semua hal yang seharusnya tidak boleh ada ketika seorang ibu sedang hamil malah kualami. Seolah-olah Allah sedang membukakan mataku untuk melihat siapa sebenarnya orang yang menjadi pasanganku. Belum lagi proses kelahiran sebelumnya yang menimbulkan luka membuatku agak takut melakukan proses persalinan di rumah sakit. Aku mau melahirkan den...

My Favourite Writer

Aku mulai 'rutin' membaca sejak usia SD kelas 5. Diawali dari tumpukan majalah milik tante yang rapih di rak buku di rumah. Awalnya hanya membaca komik di cover belakang majalah karena sang tokoh utama memiliki karakter yang unik, kerudung lebar menjuntai dengan ujung berkibar, juga kacamata yang besar. Ayo, ada yang bisa nebak komik apa dan majalah apa yang kubaca? Yup, tepat sekali. Majalahnya adalah majalah Annida dan komiknya tentu saja komik si Nida. Ada duo kakak adik penulis -yang kata tanteku rumahnya tidak jauh dari rumah kami waktu itu- yang rutin menulis untuk majalah Annida ini. Mba Helvy dan Mba Asma Nadia. Dan, akhirnya di usia SMP aku 'menemukan' serial Aisyah Putri, Operasi Milenia. Serial fiksi pertama yang membuatku merutinkan mengumpulkan uang untuk membeli buku. Sejak saat itu aku berkata, aku ingin punya semua buku karangan Mba Asma. Kumpulan cerpennya kubeli, lanjutan Aisyah Putri pun menemaniku melewati masa-masa remaja yang katanya labil....

Resep Warisan Keluarga

Beberapa saat yang lalu, adik laki-lakiku yang sedang berada di Jepang mengirimkan pesan ke ponsel ibu. 'Mi, mau dong dikirimin resep-resep masakan Umi, soalnya Ifa-istrinya sedang hamil besar- kayaknya sudah susah untuk berdiri terlalu lama.' Lalu mengalirlah curhatan tentang menu makannya akhir-akhir ini yang hanya telur mata sapi atau telur dadar saja. Hihi.. Ifa tipe istri yang suka masak dan bereksperimen di dapur. Adik laki-lakiku biasanya tinggal memakan menu buatan istrinya yang variatif. Kali ini, Ifa juga pasti masih ingin memasak, tetapi Abang tidak tega untuk memaksanya berdiri terlalu lama. Jadilah Umi mendiktekan beberapa resep dasar masakan yang selalu ada di rumah. Katanya sih, sekalian agar Abang bisa melepas rindu dengan masakan buatan Umi. Resep-resep sederhana yang alhamdulillah selalu istimewa di lidah kami, juga banyak orang yang pernah mencobanya. Tetangga, rekan-rekan anak-anaknya beberapa sempat mengatakan dengan langsung bahwa kangen masakan Umi...

Sifat Baiknya yang Ada Padamu

Dear Abang, Bunda tahu Abang sudah semakin besar, semakin bisa mengerti apa yang terjadi. Bunda berterima kasih Abang mau belajar menerima kenyataan soal hidup kita yang mungkin tidak sama dengan kebanyakan orang. Dulu, Abang akan menangis bila sosok itu pergi. Entah menangis karena takut kehilangan, atau karena bingung mengapa sosok itu selalu pergi dan jarang kembali. Pertanyaan tentang 'Apakah ayah orang lain, Bun?' juga pernah kau tanyakan. Orang lain? Bagi Bunda mungkin iya, Nak. Namun, bagi Abang, selamanya dia adalah ayahmu. Bagaimana pun perasaan Bunda terhadapnya dan semua yang terjadi di masa lalu, adalah urusan Bunda. Bagi Abang, perintah birrul walidain tetap berlaku. Betapa sedihnya Bunda ketika Abang bilang bahwa Abang nggak punya ayah, dan bilang sudah memberitahu hal itu pada teman-teman Abang. Abang tetap punya ayah, Nak. Hanya saja dia tidak tinggal bersama kita. Juga ketika Abang menolak menerima telepon darinya dan lebih asyik bermain. Sungguh, B...